RUMAHKAY-Ritual Adat Panas Gandong yang mempertemukan Masyarakat dari Negeri Rumahkay di Pulau Seram dan Masyarakat Negeri Rutong berada di Pulau Ambon, dilaksanakan di Desa Rumahkay, Kecamatan Amalatu, Seram Bagian Barat (SBB) pada Selasa (18/03/2025).
Bupati SBB Asri Arman bersama Wakil Bupati SBB Selfinus Kainama hadir dalam kegiatan yang direncanakan berlangsung selama tiga hari dengan mengusung tema “Pemanasan Gandong Amakele Lopurisa.”
Dalam event budaya lima tahunan yang telah dimulai sejak awal abad ke-19 ini, juga turut pula dihadiri langsung oleh Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, SH., LL.M., didampingi Wakil Gubernur Abdullah Vanath, S.Sos. dan para beberapa Pimpinan OPD Provinsi Maluku.
Bersama Bupati dan Wakil Bupati, terlihat pula Forkopimda SBB, Sekretaris Daerah SBB, Staf Ahli Bupati, Asisten Setda, Pimpinan OPD Pemerintah Kabupaten SBB, Camat Amalatu dan para kepala Desa.

Acara yang berlangsung dalam Rumah Adat Baileo Rumahkay ini, diawali dengan penyambutan berupa tarian Cakalele dan prosesi adat berupa pemberian seserahan adat dari masyarakat Negeri Rutong kepada Masyarakat Negeri Rumahkay.
Dalam sambutannya Bupati menyampaikan, “Kehadiran basudara dari Negari Rutong di Desa Rumahkay, dalam acara bakumpul dan bakudapa orang basudara bukan lagi hanya sekedar tamu, tapi sudah menjadi bagian keluarga besar saudara di Pulau Nusa Ina, dimana ale rasa beta rasa, potong di kuku rasa di daging.”
“Semoga dengan pertemuan ini, hubungan katong basudara semakin erat dan kerjasama semakin kuat dalam perbedaan yang harmonis, rukun aman dan damai dalam kedekatan persaudaraan dan kesatuan,” lanjut Bupati.
“Kita percaya kedatangan Bapak-bapak, baik Pak Gubernur dan Pak Wakil Gubernur berserta rombongan di Bumi Saka Mese Nusa ini, adalah berkat dan rahmat serta ridho dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa dalam acara ini,” ungkap Bupati.
Beliau kemudian menambahkan, “Dengan semangat Gandong yang terus menyala, Rumahkay dan Rutong membuktikan bahwa tradisi adalah perekat yang menguatkan persaudaraan dan melestarikan identitas budaya di Bumi Raja-Raja Maluku.” (Diskominfo SBB)


