18 C
Maluku
Sabtu, September 26, 2026

GERAKAN SBB ASRI 2026, PERKUAT PERTANIAN BERBASIS KOMODITAS UNGGULAN LOKAL

AMALATU – Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) mulai mengembangkan gerakan penanaman 100 ribu bibit cengkih hutan secara bertahap sebagai bagian dari upaya memperkuat sektor pertanian dan perkebunan berbasis komoditas unggulan lokal.

Gerakan tersebut diwujudkan melalui kegiatan pembibitan dan penanaman cengkih hutan yang dipusatkan di Desa Latu, Kecamatan Amalatu, Kamis (24/9/2026). Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari Gerakan SBB ASRI 2026 dan dilaksanakan bertepatan dengan peringatan Hari Tani Nasional ke-66.

Penanaman perdana ditandai dengan penanaman bibit cengkih hutan oleh Bupati SBB Asri Arman bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) SBB, Sekretaris Daerah, pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), Camat Amalatu, Camat Kairatu, serta Kepala Desa Latu, Tomalehu dan Hualoy.

Mengusung tema “Satu Pohon Cengkeh untuk Masa Depan Tani SBB”, gerakan ini tersebut diarahkan untuk membangun sistem pertanian yang produktif dan berkelanjutan.

Mengusung tema “Satu Pohon Cengkeh untuk Masa Depan Tani SBB”, gerakan tersebut diarahkan untuk membangun sistem pertanian yang produktif dan berkelanjutan sekaligus mengoptimalkan potensi agro-maritim yang dimiliki Kabupaten SBB.

Program 100 ribu bibit cengkih hutan tersebut tidak dilakukan melalui satu lokasi pembibitan terpusat. Penyemaian dan pembibitan dilaksanakan secara bertahap melalui kelompok-kelompok tani di Desa Latu, Tomalehu dan Hualoy.

Pola pembibitan berbasis kelompok tani ini diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan masyarakat sejak tahap awal pengembangan komoditas. Selain menyediakan bahan tanam, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas petani dalam menghasilkan bibit yang berkualitas untuk mendukung perluasan kebun cengkih di wilayah SBB.

Pengembangan cengkih hutan di SBB juga memiliki dasar teknis. Hasil observasi Balai Besar Perbenihan dan Pelindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Ambon pada 2025 menunjukkan adanya potensi cengkih hutan di Kabupaten SBB untuk dikembangkan sebagai komoditas perkebunan.

Observasi terhadap pohon induk antara lain dilakukan di Desa Latu dan Hualoy untuk memperoleh sumber benih dengan karakter produksi yang baik, kondisi tanaman sehat serta bebas dari hama dan penyakit.

Pengembangan tersebut semakin mendapat penguatan setelah Kementerian Pertanian menyetujui tiga varietas cengkih hutan Maluku sebagai varietas unggul baru dalam Sidang Pelepasan Varietas Tanaman Perkebunan Semester I Tahun 2026. Ketiga varietas tersebut adalah Nusa Amahitu 1, Nusa Amahitu 2 dan Nusa Amahitu 3.

Pelepasan varietas memberikan dasar bagi pengembangan dan perbanyakan benih secara lebih luas dengan identitas serta karakteristik varietas yang jelas.

Cengkih hutan merupakan salah satu sumber daya genetik lokal Maluku yang telah lama berkembang dan dibudidayakan masyarakat. Potensi adaptasinya terhadap kondisi lingkungan setempat menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangannya sebagai komoditas perkebunan daerah.

Penanaman perdana ditandai dengan penanaman bibit cengkih hutan oleh Bupati SBB Asri Arman, di Desa Latu, Kecamatan Amalatu, Kamis (24/9/2026).

Bagi Pemerintah Kabupaten SBB, pengembangan komoditas lokal tersebut tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi, tetapi juga pada pembentukan ekosistem usaha pertanian yang melibatkan masyarakat sejak penyediaan bahan tanam hingga pengembangan hasil produksi.

Dalam sambutannya, Bupati SBB Asri Arman menegaskan bahwa kegiatan penanaman cengkih hutan tidak semata-mata merupakan kegiatan seremonial, tetapi bagian dari investasi jangka panjang yang menghubungkan aspek lingkungan dan ekonomi masyarakat.

“Kita berada di sini bukan sekadar untuk menanam pohon secara seremonial. Kita sedang meletakkan dasar investasi ekologis dan ekonomi jangka panjang dari Amalatu untuk Bumi Saka Mese Nusa melalui Gerakan SBB ASRI,” kata Bupati.

Menurutnya, program penanaman 100 ribu anakan cengkih hutan secara bertahap merupakan bentuk penerjemahan agenda pelestarian lingkungan ke dalam kegiatan ekonomi masyarakat, khususnya melalui kelompok-kelompok tani.

“Melalui program penanaman 100.000 anakan cengkih hutan secara bertahap ini, kita membumikan perintah Kepala Negara menjadi sebuah aksi konkret ekonomi kerakyatan. Kita buktikan dari tingkat tapak kelompok tani di Kecamatan Amalatu bahwa SBB siap mendukung visi hijau nasional Pemerintah Pusat,” ujar Beliau.

Bupati mengatakan, gerakan tersebut sejalan dengan visi pembangunan Kabupaten SBB yang menempatkan keberlanjutan lingkungan dan penguatan sektor agro-maritim sebagai bagian penting dari pembangunan daerah.

“Visi yang saya dan Pak Wakil Bupati usung, yakni SBB maju, harmonis dan berkelanjutan berbasis agro-marine, menegaskan komitmen bahwa masa depan SBB harus bersandar pada kelestarian alam yang mampu menghidupi rakyat,” kata Bupati.

Beliau menjelaskan, penanaman 100 ribu anakan cengkih hutan ditargetkan dilakukan secara bertahap dalam kurun waktu dua tahun dan mencakup 92 desa serta 115 dusun di Kabupaten SBB.

Gerakan SBB ASRI 2026 selanjutnya diarahkan untuk membangun ekosistem pengembangan cengkih hutan dari hulu hingga hilir.

Untuk memastikan program berjalan berkelanjutan, Bupati menginstruksikan jajaran pemerintah daerah, camat dan kepala desa untuk mengawal pelaksanaan program secara bertahap dengan penuh tanggung jawab.

“Kita targetkan penanaman total 100 ribu anakan cengkih hutan secara bertahap di 92 desa dan 115 dusun yang akan dilakukan selama dua tahun,” tutur Bupati.

Selain pengembangan kawasan tanam, pemerintah daerah juga mendorong Desa Latu, Tomalehu dan Hualoy menjadi sentra penyediaan bibit cengkih hutan bagi masyarakat.

“Bagi siapa saja, baik warga SBB maupun dari mana saja, yang ingin menanam cengkih hutan, Latu, Tomalehu dan Hualoy siap menyediakan dan menjual anakan atau bibit cengkih dengan kualitas terbaik dengan harga yang terjangkau,” ujarnya.

Gerakan SBB ASRI 2026 selanjutnya diarahkan untuk membangun ekosistem pengembangan cengkih hutan dari hulu hingga hilir. Pengembangan tersebut mencakup penyediaan benih bermutu, pembibitan, perluasan kawasan tanam, pendampingan petani, hingga pengolahan dan pemasaran hasil.

Dengan melibatkan kelompok tani, pemerintah daerah, lembaga penelitian dan pemangku kepentingan lainnya, program tersebut diharapkan dapat menjadi investasi jangka panjang bagi masyarakat sekaligus memperkuat pengembangan komoditas perkebunan berbasis potensi lokal di Kabupaten SBB.

Momentum Hari Tani Nasional menjadi pengingat bahwa keberhasilan pengembangan sektor pertanian tidak hanya ditentukan oleh program pemerintah, tetapi juga oleh keterlibatan petani sebagai pelaku utama. Karena itu, gerakan penanaman cengkih hutan diharapkan tidak berhenti pada penanaman bibit, tetapi berlanjut hingga tanaman tumbuh produktif dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. (Diskominfo SBB)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

error: