KAIBOBU-Masyarakat Desa Kaibobu, Kecamatan Seram Barat, kembali melaksanakan Upacara Buka Sasi Laut sebagai penanda berakhirnya masa penutupan wilayah tangkap dan dibukanya kembali aktivitas perikanan tradisional. Tradisi adat yang telah diwariskan turun-temurun ini menjadi simbol komitmen masyarakat pesisir dalam menjaga kelestarian sumber daya laut secara bijaksana dan berkelanjutan.
Upacara yang dipusatkan di Pantai Desa Kaibobu tersebut berlangsung meriah dengan rangkaian prosesi budaya, pertunjukan kesenian tradisional, serta pembacaan tanda buka Sasi oleh para tetua adat. Momen ini menegaskan kembali peran masyarakat adat dalam mengelola wilayah pesisir melalui kearifan lokal yang tetap relevan hingga masa kini.
Kegiatan turut dihadiri Wakil Bupati Seram Bagian Barat, Selfinus Kainama, Sekretaris Daerah Leverne A. Tuasuun, para Staf Ahli Bupati, Asisten Setda, pimpinan OPD, Camat Seram Barat, Forkopimcam Seram Barat, serta pimpinan dan staf Yayasan Nusa Bahari Lestari (SAHARI), lembaga yang bergerak pada pemberdayaan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil di Maluku.

Kehadiran lintas unsur pemerintah dan mitra pembangunan tersebut diharapkan memperkuat dukungan terhadap tata kelola lingkungan berbasis masyarakat serta mendorong pelestarian ekosistem laut, khususnya kawasan pesisir Desa Kaibobu.
Dalam praktiknya, Sasi tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme pengendalian pemanfaatan sumber daya laut, namun juga menjadi instrumen sosial-ekologis yang menguatkan ketahanan masyarakat. Tradisi ini terbukti efektif dalam pemulihan stok ikan, menjaga keseimbangan ekosistem, sekaligus memperkokoh struktur sosial masyarakat adat.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati menyampaikan bahwa Sasi adalah warisan budaya yang memiliki nilai ekologis, sosial, dan spiritual yang sangat kuat.
“Sasi Adat Laut merupakan sistem pengelolaan sumber daya berbasis kearifan lokal yang telah dipraktikkan turun-temurun oleh masyarakat di sini,” ujar wakil bupati.

Beliau menegaskan bahwa dalam konteks pembangunan daerah, praktik Sasi memiliki keterkaitan erat dengan kebijakan pembangunan berkelanjutan.
“Pelestarian Sasi bukan hanya sebagai mekanisme adat menjaga ekosistem, tetapi juga sebagai instrumen sosial yang memperkuat kohesi masyarakat, solidaritas, dan disiplin kolektif,” lanjut beliau.
Wabup juga berharap pelaksanaan Sasi tidak hanya dipandang sebagai ritual budaya, tetapi juga menjadi ruang refleksi bersama untuk memperkuat kesadaran ekologis dan tanggung jawab sosial masyarakat terhadap kelestarian sumber daya pesisir dan laut.
“Dengan demikian, tradisi ini dapat terus hidup dan beradaptasi dalam pembangunan modern tanpa kehilangan nilai-nilai luhur yang dikandungnya,” tambah beliau.
Menutup sambutan, Wakil Bupati menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berperan dalam penyelenggaraan kegiatan.
“Semoga kegiatan ini memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat serta menjadi contoh praktik baik pelestarian budaya dan lingkungan di SBB,” ujarnya.
Dengan terselenggaranya Upacara Buka Sasi Laut Tahun 2025, Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pelestarian budaya lokal dan memastikan pengelolaan sumber daya pesisir yang berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat Kaibobu dan generasi yang akan datang. (Diskominfo SBB)


